teori sinyal dalam lamaran kerja
mengapa ijazah lebih penting sebagai simbol daripada ilmu
Pernahkah kita duduk menatap layar komputer di kantor, lalu sadar bahwa 90 persen hal yang kita pelajari selama empat tahun di kampus sama sekali tidak terpakai? Saya yakin banyak dari teman-teman yang merasakannya. Kita begadang mengerjakan skripsi, menghafal rumus rumit, atau membaca teori klasik, tapi ujung-ujungnya pekerjaan sehari-hari cuma butuh kemampuan membalas email, negosiasi, dan mengoperasikan spreadsheet. Lalu, buat apa kita bayar mahal-mahal dan stres bertahun-tahun demi selembar kertas bernama ijazah? Mengapa staf HRD di luar sana begitu terobsesi dengan pelamar bergelar sarjana, jika ilmunya jarang dipakai?
Mari kita bedah keanehan ini bersama-sama sejenak. Logikanya, kalau perusahaan mencari orang yang bisa mendesain grafis atau menulis kode software, mereka cukup memberikan tes keahlian, bukan? Faktanya, dunia kerja tidak bekerja dengan cara sesederhana itu. Pelamar dengan portofolio yang lumayan namun tanpa ijazah sering kali langsung tereliminasi di tahap seleksi berkas. Seolah-olah kertas berstempel kampus itu punya sihir mutlak. Untuk memahami fenomena absurd yang sering membuat kita frustrasi ini, kita harus mundur sedikit dari kerasnya dunia korporat. Kita perlu melihat bagaimana sejarah alam semesta dan biologi evolusioner bekerja. Tepatnya, kita harus mengamati kelakuan aneh seekor burung.
Pernahkah teman-teman memperhatikan burung merak jantan? Ekornya luar biasa panjang, sangat berat, dan berwarna-warni mencolok. Secara evolusi biologis, ekor ini adalah sebuah bencana besar. Ekor itu membuat merak jantan susah terbang dan sangat mudah ditemukan oleh hewan pemangsa. Secara akal sehat, hewan dengan beban tubuh yang konyol seperti itu seharusnya sudah lama punah termakan seleksi alam. Namun, merak jantan berekor besar justru bertahan hidup dan selalu dipilih oleh merak betina untuk kawin. Mengapa sang betina justru menyukai jantan yang membawa beban berbahaya itu? Jawabannya ternyata sangat mengejutkan: justru karena ekor itu berat dan mematikan. Lewat ekor tersebut, sang jantan seolah sedang mengirim pesan, "Lihat, aku punya beban hidup seberat ini, tapi aku tidak dimakan harimau. Berarti genetikku sangat kuat!" Di sinilah letak misterinya. Lalu, apa hubungannya pamer ekor burung merak dengan tumpukan map lamaran kerja kita di meja HRD?
Jawabannya tersembunyi pada sebuah konsep psikologi ekonomi yang bahkan memenangkan Hadiah Nobel, yaitu Signaling Theory atau Teori Sinyal. Pada awal tahun 70-an, seorang ekonom bernama Michael Spence membuktikan bahwa ijazah kampus kita sebenarnya berfungsi persis seperti ekor burung merak. Universitas bukanlah sekadar wadah untuk mentransfer ilmu pengetahuan murni ke otak kita. Universitas sebenarnya adalah sebuah arena ujian ketahanan fisik, mental, dan kepatuhan. Saat kita melamar pekerjaan, perusahaan sebenarnya berada dalam posisi buta. Mereka tidak tahu pasti apakah kita ini rajin, pemalas, atau mudah menyerah. Jadi, ijazah bertindak sebagai sinyal mahal (costly signal). Ijazah membuktikan bahwa kita mampu bangun pagi selama empat tahun berturut-turut. Kita terbukti mampu tunduk pada tenggat waktu. Kita sanggup menahan rasa bosan mendengarkan dosen, dan kita punya kegigihan untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Sama seperti merak jantan, lewat ijazah itu kita sedang berteriak kepada perusahaan, "Lihat, saya sanggup melewati empat tahun penderitaan akademis yang membosankan dan saya tidak menyerah. Pekerjakan saya."
Mengetahui fakta ilmiah ini mungkin awalnya terasa sedikit sinis bagi kita. Kita mungkin merasa ditipu oleh sistem pendidikan yang seolah menjanjikan bahwa ilmu di kelas adalah segalanya. Namun di sisi lain, bukankah kesadaran ini sangat melegakan? Kita tidak perlu lagi merasa bersalah atau bodoh kalau hari ini kita lupa 99 persen materi kuliah kita. Teman-teman, keterampilan teknis dan ilmu spesifik pada akhirnya selalu bisa dicari di internet atau dipelajari langsung sambil bekerja. Namun, karakter dasar, daya juang, dan ketahanan terhadap tekanan tidak bisa diunduh begitu saja dari mesin pencari. Itulah kualitas tersembunyi yang dibeli oleh perusahaan dari diri kita. Jadi, besok pagi saat kita bersiap berangkat kerja, tataplah ijazah yang mungkin sudah berdebu di lemari itu dengan sudut pandang baru yang lebih hangat. Kertas itu bukan sekadar bukti seberapa pintar kita menghafal buku. Ijazah itu adalah ekor merak kita yang indah, sebuah bukti sahih bahwa kita adalah penyintas dari ujian kedisiplinan. Pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang sedang berusaha bertahan hidup di kerasnya hutan korporat, dan sejauh ini, kita sudah melakukannya dengan sangat baik.